Menghadapi Remaja ADAH
Special Needs Kids

Menghadapi Remaja dengan ADHD

“Sudah siap belum Ezio jadi remaja?”

Satu kalimat yang pernah ditanyakan oleh temanku. Sebenarnya pertanyaannya simple  sih, mengingat sekarang memang Ezio sudah berumur 8 tahun. Yah walau memang masih beberapa tahun ke depan, namun aku mungkin sudah harus memikirkannya. Pertanyaanku adalah apakah dengan ADHD yang ada pada Ezio akan berbeda juga dunianya dengan ketika aku remaja dulu? Bagaimana menghadapi remaja dengan ADHD ?

Baca Juga :
Starter Kit Menghadapi Anak ADHD

Sebenarnya aku sudah pernah mengikuti perbincangan dengan komunitas ADHD yang aku ikuti. Saat itu membicarakan bagaimana karakter anak ADHD ketika dewasa nanti. Ini yang aku rangkum pada tulisanku kali ini.

Pembekalan Anak Remaja ADHD oleh @temanadhd

Praktisi dari @temanadhd, Ibu Indri Safitri adalah seorang psikolog yang memang menangani ADHD dari anak hingga remaja. Beliau menjelaskan bahwa penting untuk orang tua memahami pola pikir remaja ADHD. Ketika ada permasalahan tidak langsung ke solusi, melainkan sabar menjelaskan nanti begitu dia paham, langsung bisa memahami hal itu.

Hasil Riset Remaja Dengan ADHDADHD dan Pertemanan

Menurut Watson (2020), 99% anak dan dewasa dengan ADHD mengalami sensivitas terhadap penolakan. Ciri-cirinya adalah :

  • Teralu mudah merasa malu
  • Sangat marah dan emosional jika dikecewakan orang lain
  • Menetapkan standard yang tinggi untuk orang lain sementara mereka tidak dapat mencapai itu
  • Harga diri yang rendah
  • Merasa cemas dalam situasi sosial
  • Kesal hingga menyakiti diri sendiri
  • Menarik diri
  • Merasa gagal karena tidak dapat memenuhi harapan atau tuntutan orang lain

Sehingga menurut Dodson(2019) dengan ketakutan terhadap konflik, remaja dengan ADHD cenderung mengalah terhadap “tujuan” mereka. Alih-alih mengikuti orang lain karena takut kehilangan orang lain. Lalu pada kondisi ekstrim seperti sudah kalah sebelum berperang karena asumsi-asumsi yang kuat. Contohnya : tidak mau berteman, menolak ke sekolah, menenggelamkan diri pada dunia maya, atau bahkan sampai tidak mau berpacaran.

Baca Juga :
Survey Sekolah Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

ADHD dan Percintaan

Hubungan percintaan biasanya lekat di kalangan remaja. Walau sebutannya “cinta monyet” namun sebagai orang tua, perlu untuk mengerti dan memahami agar anak tidak salah dalam menghadapi “cinta monyet” ini.

ADHD dan PercintaanRemaja dengan ADHD akan memiliki fokus berlebihan pada pasangannya sehingga mereka cenderung menuntut. Hubungan dengan pacar dapat mempengaruhi ke stabilan emosi. Ada satu sisi yang menurut Ibu Indri berbahaya, yaitu anak ADHD sangat mudah overthinking. Bagian ini ada yang berpengaruh positif ada yang berpengaruh negative. Contoh yang positif : saya suka sesuatu, maka saya akan berjuang dengan sungguh-sungguh. Contoh yang negative : ketika saya tidak angkat telepon dari teman saya, maka teman itu akan menjauhi saya.

Aku lagi membayangkan ketika Ezio remaja, kira-kira bakal seperti apa. Aku juga dulu punya adik laki-laki, namun bukan seorang anak ADHD. Apa mungkin agar tidak malu dan percaya diri, Ezio akan bertanya hal kecil-kecil seperti “bun, parfum yang cocok untuk aku apa ya?” atau “deodorant untuk remaja yang oke apa ya, bun?” . Walau pertanyaannya simple namun aku rasa itu hal yang penting bagi dia 🙂 .

Strategi Menghadapi Remaja dengan ADHD

Sebelum membahan strategi, menurut Ibu Indri, sangat penting mengajak remaja dengan ADHD untuk memahami situasi, pikiran/perasaan/tindakan diri sendiri dan juga konsekuensi atau dampak dari perilaku tersebut.

Emosi pada remaja dengan ADHD biasa akan seperti ini :

  • Ekspresi emosi : emosional
  • Suasana hati berubah-ubah dengan sangat cepat
  • Sulit menenangkan diri ketika marah
  • Cenderung membangkang atau melawan terhadap teman maupun orang dewasa
  • Sulit menerima umpan balik, bereaksi secara emosional
  • Tidak dapat mengontrol emosi
  • Kalau sudah lama daman emosi negative, akan susah bangkit

Jadi hal-hal apa yang dapat dilakukan orang tua :

  • Memberi contoh untuk membahasakan emosi secara verbal
  • Mengajarkan tema-tema cerita tentang ragam emosi
  • Membantu anak menyadari ekspresi emosinya
  • Jika anak marah, maka sikapilah dengan tenang dan tegas
  • Ada percakapan rutin dengan anak untuk memantau emosi anak
  • Bantu anak menyadari “hot button” nya, demikian untuk orang tuanya juga
  • Membantu anak mengembangkan strategi pemecahan masalah

Menjadi orang tua anak dengan ADHD memang memaksa kita harus selalu belajar di setiap fase kehidupannya. Satu pesan Ibu Indri yang sampai sekarang nancep di pikiran dan hatiku adalah temukanlah keunikan seorang anak ADHD, inilah resep jitu untuk mengangkat hatga diri dari NOBODY menjadi SOMEBODY. Semangat !!

Resep Jitu Anak ADHD

Silahkan tinggalkan jejak, tapi jangan link hidup yahh :)

3 Komentar
  • Avizena Zen

    Tetap semangat ya Kak dalam membersamai anandanya. Kalau anak ADHD emang istimewa dan jika beranjak remaja, butuh penyesuaian yang panjang x lebar.

    Apalagi masalah cinta monyet dan kemarin sempat kahwatir anakku (10 tahun) udah ngerasain itu.

    Oh ya anakku dulu sempat dikira ADHD karena susah diam tapi pas konsul ternyata enggak, katanya super aktif (dan aku ga gitu paham bedanya apa sih).

  • Mechta

    Terima kasih sharingnya ya.. Masa remaja memang masa yg cenderung sulit ya..apalagi bagi anak dg ADHD, rupanya tingkat kesulitan utu relatif lebih tinggi. Namun aku yakin akan ada solusi utk menghadapinya. Dan tulisan ini adalah salah satu yg bisa digunakan sbg bantuan utk orangtua dg anak remaja ADHD. Sekali lagi, terima kasih sharingnya..

  • Andrew Pradana

    Keren nih sharingnya. Pengalaman yang bisa dimanfaatkan para orang tua lainnya. Apalagi pada masa-masa remaja anak ADHD perlu perhatian yang lebih baik. Thanks mba informasi yang udah di share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *