cara mengatasi anak tantrum
Special Needs Kids

Bingung Anak Ngamuk, Begini Cara Mengatasi Anak Tantrum

Sudah tidak terhitung berapa kali anak aku, Ezio ngamuk depan umum. Aku awalnya malu karena semua mata memandang ke arah Ezio. Kalau aku marah, yang ada Ezio makin menjadi-jadi tantrumnya. Sejalan dengan waktu akhirnya aku menemukan cara mengatasi anak tantrum.

Oh ya, untuk yang belum mengenal anak aku, aku info dulu bahwa Ezio, anak aku adalah seorang anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dengan diagnosa ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder) atau dalam bahasa Indonesia biasa dikenal dengan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian&  Hiperaktivitas).

Kali ini aku tidak akan membahas tentang masalah ABK Ezio, karena masalah ABK Ezio baru terdiagnosa ketika umur 4,5 tahun. Tahun-tahun sebelum itu, Ezio sudah sering sekali tantrum dan tidak mengenal tempat. Dan di saat itu aku belum mengetahui tentang masalah yang terjadi pada tumbuh kembang Ezio

Aku sempat kebingungan dibuatnya, seakan semua cara yang ku tempuh tidak mempan. Setiap ada keinginan yang tidak terpenuhi dan keadaan yang tidak membuat Ezio nyaman, dia selalu tantrum hebat. Dan tantrum yang terjadi bisa dibilang sudah membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri.

Konsultasi ke Ahli Tumbuh Kembang Anak

Aku memutuskan untuk berkonsultasi ke ahlinya yaitu ahli tumbuh kembang anak. Awalnya aku bertemu dengan psikolog, lalu berlanjut ke dokter tumbuh kembang anak.

Menurut psikolog di kala itu, tantrum asalah luapan dari emosi anak yang sulit dikendalikan, nah biasanya ini berkaitan dengan keinginan yang tidak terpenuhi yang terjadi dalam situasi/kondisi tertentu yang membuat anak tidak nyaman misalnya sedang lelah atau ngantuk.

Tantrum sebenarnya adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak. Yang rawan tantrum adalah anak usia 1 hingga 3 tahun karena kemampuan bahasanya belum berkembang dengan baik, sehingga menghasilkan ekspresi emosi berupa tantrum.

Penyebab Tantrum pada Anak

Biasa penyebab tantrum adalah masalah kemampuan bahasa yang masih belum berkembang dengan baik. Saat anak belum bisa membahasakan apa yang dia rasakan atau inginkan, di situlah rasa frustasi timbul.

Selain itu ada juga penyebab tantrum pada balita, yaitu :

  1. Mencari perhatian
  2. Keinginan yang tidak terpenuhi
  3. Rasa Frustasi
  4. Lelah
  5. Orang tua yang mengekang
  6. Anak temperamental
  7. Terdapat masalah pada tumbuh kembang anak

Untuk Ezio sendiri, lebih dominan karena dia mempunyai masalah pada tumbuh kembangnya dan juga kemampuan bahasa yang masih minim. Sehingga aku perlu lebih extra lagi dalam mengatasi tantrum yang terjadi pada Ezio.

Cara Mengatasi Anak Tantrum

Dulu ketika Ezio tantrum, aku sampai butuh bantuan orang untuk memegang dia hingga tidak kemana-mana atau tidak membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri. Karena memang Ezio kalau tantrum sehebat itu.

Bagi aku anak tantrum hampir mirip dengan anak tidak mau patuh pada ucapan orang. Sehingga aku belajar dulu bagaimana aku mengubah perilaku agar anak patuh.  Perilaku ini sejauh ini berhasil aku terapkan pada Ezio yang notabenenya adalah anak ADHD.

Selain itu cara umum yang dapat orang tua lakukan untuk mengatasi anak tantrum adalah :

  1. Orangtua tetap berpikir dengan kepala dingin
    Ketika anak tantrum (lagi naik emosinya), usahakan orang tua tetap berkepala dingin , tidak terpancing emosi juga. Karena jika kita jadi emosi juga, yang ada anak malah tambah jadi tantrumnya. Yang sebaiknya dilakukan adalah diam menunggu anak meluapkan emosinya. Memang dampaknya kita jadi malu sama orang sekitar, menurut aku tidak mengapa selama belum membahayakan orang sekitar. Jika sudah membahayakan, peluklah anak denga erat.

    Sebaiknya tidak meninggalkan anak sendirian karena jika anak tidak melihat orang yang dikenal sekitarnya, anak bisa jadi lebih hebat tantrumnya.

  2. Orang tua jangan menyerah
    Ini maksudnya adalah, sebagai orang tua jangan menyerah mengikuti keinginan anak yang tidak sesuai dengan apa yang sudah kita gariskan demi anak bisa diam. Cara ini bisa berakibat lebih buruk ke depannya. Dengan menyerah, otomatis orang tua mengajarkan bahwa tantrum adalah cara yang baik untuk memenuhi keinginannya.

    Bagaimana jika di tempat umum? Orang tua bisa membawa anak ke tempat yang lebih tenang/sepi untuk menunggu anak lebih tenang.

  3. Bicaralah dengan anak setelah tantrumnya selesai
    Setelah tantrumnya mereda, bicaralah dari hati ke hati dengan anak. Cobalah memahami rasa frustasi yang dialami anak. Bisa juga orang tua membantu anak mengungkapkan expresinya serta ungkapkan juga alasan mengapa keinginannya tidak dapat kita penuhi.

  4. Katakan jika kita menyayanginya
    Setelah mereda dengan baik, jangan lupa untuk mengungkapkan bahwa kita menyayanginya. Bisa sertakan dengan pelukan. Penting anak mengetahui bahwa walau kita menolak untuk mengikuti keinginannya, kita tetap menyayanginya.

  5. Pelajari sebab tantrum si kecil, untuk tindakan preventif berikutnya
    Ingat atau jika perlu catat hal-hal yang biasa membuat anak tantrum. Buatlah rencana untuk menghindarinya. Misalnya, jika ke tempat perbelanjaan anak suka minta dibelikan mobil-mobilan, maka bawakanlah mainan mobil-mobilan yang sudah ada. Atau jika anak suka tantrum karena lapar, maka bawakanlah cemilan untuknya. Cobalah lebih santai dalam bernegosiasi dengan anak.

  6. Jika gejala tantrum berlebihan, sebaiknya periksa ke ahlinya
    Seperti dituliskan pada awa artikel ini bahwa tantrum adalaha hal yang wajar, namun ada kejadian-kejadian sebagai trigger bahwa orang tua perlu berkonsultasi pada ahlinya. Jika tantrum anak sudah membahayakan orang lain atau terlebih membahayakan dirinya sendiri dalam artian anak menyakiti dirinya sendiri, seperti membenturkan kepalanya sendiri, membanti-banting badannya sendiri ke lantai, maka orang tua wajib mencari bantuan kepada para ahli. Carilah dokter/psikolog, mereka akan membantu menangani masalah fisik maupun psikis yang tengah dihadapi anak. Dokter/Psikolog juga pasti akan memberikan masukan yang dapat dilakukan orang tua tantrum anak yang berlebihan.

Begitulah ceritaku membersamai Ezio dan beberapa cara mengatasi anak tantrum. Semoga membantu para mama untuk menghadapi anak yang sedang tantrum. Tetap semangat !! 🙂

4 Komentar
  • Ghina

    Emang merasa malu ya mbak. Kadang kalai lagi nangis kejer gitu aku cepet cepet diemin jg karena ga enak sama org lain. Hm, pdhl harusnya ya wajar aja, karna memang anak anak itu ada masanya kena tantrum.

    Beberapa tips tsb aku praktikkan juga. Yg paling susah itu kalau harus beekepala dingin tp kitanya lg ada masalah lain jg. Duh rasanya udah panas aja nih ubun ubun pengenluapin emosi marah

  • Hidayah Sulistyowati

    Setuju mba, nggak perlu malu dengan penilaian orang saat anak kita tantrum. Dan jangan ditinggal sendirian juga. Malah anak makin menjadi ya karena nggak ada orang yang dikenal ada di dekatnya.

    Masya Allah mba Nitha diberikan seorang anak dengan kebutuhan khusus ini merupakan ibu hebat. Biasanya mereka perempuan yang super sabar. Semoga diberikan kesehatan sekeluarga ya mbak

  • lendyagasshi

    Ini prakteknya sungguh gak semudah teorinya banget.
    zaman dulu anakku sering tantrum tuh..menguji banget. Pengen rasanya tampil menjadi mama Barbie terus, namun kalau ujiannya sedang parah, ya jadi Godzilla juga…
    Eh, sampai sekarang ada masanya anak-anak butuh diperhatikan lebih juga siih….

  • Ira Hamid

    Saat anak tantrum, kita sebagai orang tua memang mesti tenang yaa, gak boleh terbawa emosi hingga membentak atau melakukan kekerasan pada anak. Saya, kalo anakku mulai tantrum biasanya saya diamkan

Tinggalkan Balasan ke lendyagasshi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *